Padangsidimpuan,-
Pada tanggal 5 Februari 1947 Hari kelahiran Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan hari ini pada tanggal 5 Februari 2026 menunjukkan hari Milad HMI yang sudah memasuki usia ke-79 tahun sang gagah perkasa kawah para Candradimuka.
Hijaunya yang tajam Hitamnya yang gagah legam. Perisai, pena, bulan sabit dan bintang sebagai lambang kejayaan Umat Islam. Di tengah riuh pikuk ucapan selamat atau harapan hingga lontaran kritik dari kader dan alumninya terhadap hari kelahirannya, yang ke-79 tahun justru menunjukkan kedewasaan sejarahnya.
Organisasi ini lahir bukan dari ruang hampa, melainkan dari kegelisahan zaman, dari kebutuhan umat dan bangsa akan kader intelektual yang berani berpikir dan bertindak. Kritik atas momentum kelahiran HMI adalah bagian dari dialektika sejarah, dan HMI tidak pernah alergi terhadap itu. sebab, sejak awal HMI dibesarkan oleh perbedaan gagasan, bukan oleh keheningan yang nyaman.
Milad HMI bukan sekadar perayaan usia, melainkan refleksi panjang atas peran dan tanggung jawabnya. Dalam setiap pengharapan hingga kritik yang diarahkan, tersimpan pengakuan bahwa HMI masih relevan untuk dipersoalkan.
Organisasi yang tidak lagi diperdebatkan justru menandai kematiannya. Maka, kritik akan hari kelahiran HMI sejatinya adalah bukti bahwa HMI masih hidup dalam kesadaran publik dan sejarah bangsa. Apresiasi layak diberikan kepada HMI beserta kader dan alumninya yang tetap berdiri, beradaptasi, dan bertahan melampaui zaman. Dengan tradisi intelektual, independensi sikap, serta komitmen keislaman dan keindonesiaan, HMI terus melahirkan kader yang berpikir kritis, berani berbeda, dan siap bertanggung jawab atas pilihannya. Di usia yang terus bertambah dan tua ini, HMI tidak dituntut untuk sempurna, tetapi untuk tetap setia pada nilai dasarnya berkhidmat untuk umat dan bangsa.
Rahmad Fauzi Harahap Ketua Bidang Hukum dan HAM HMI Cabang Padangsidimpuan-Tapanuli Selatan mengajak kepada seluruh kader dan alumni bahwa sejatinya berdiri di barisan yang sama, sama-sama lahir dari rumah perjuangan ini. Saat keadaan belum ideal, yang dibutuhkan bukan saling menyalahkan, melainkan keberanian untuk bercermin dan berbenah.
Kritik tanpa keteladanan hanya akan memperlebar jarak, sementara refleksi dan perbaikan diri justru memperkuat barisan. Mari hentikan tradisi saling tunjuk, dan mulai budaya saling menguatkan—karena organisasi ini tidak tumbuh dari siapa yang paling lantang menyalahkan, tapi dari siapa yang paling siap memperbaiki diri dan bertanggung jawab.
“Selamat Milad Himpunanmu, Himpunanku dan Himpunan kita. Teruslah bertumbuh dalam kritik, matang dalam perdebatan, dan tegak dalam pengabdian. Karena organisasi besar bukan yang bebas dari kritik, melainkan yang mampu menjadikannya bahan bakar untuk tetap relevan dan bermakna",Tutupnya.(andry)

0 Komentar